Posted by evancornelius on June 22, 2007
Dear all,
Setiap malam pada saat pulang kantor di perempatan Senen (Jakarta) seperti biasa saya melihat banyak anak kecil yang berkeliaran di lampu merah tersebut (ada yang ngamen, ngemis, jualan, dll…). Saya terpukau pada 1 anak kecil laki2 yang kira2 berumur sekitar 8-9 tahun yang menjajakan “koran basi” atau koran yang semestinya dijual pada pagi tadi. Anak kecil ini sedemikian giatnya mendatangi mobil per mobil untuk menjajakan koran dagangannya, tetapi kebanyakan tidak membeli (tentu saja, karena koran yang di jual adalah “koran basi”).
Tetapi masalah “koran basi” itu bukanlah masalah utamanya di sini. Melainkan anak kecil tersebut telah mengajari kita untuk tetap memiliki iman dan percaya dalam melakukan segala sesuatu…TERBUKTI…masih ada saja orang yang mau membeli “koran basi” tersebut…dan anak kecil itu hampir setiap malam berjualan di sana…berarti ini menandakan ada “market” di sana… Saya teringat dengan sebuah tagline iklan rokok di televisi yang akhir2 ini juga sering di dengungkan oleh teman2 di kantor saya…bunyinya: “MASIH ADA CELAH KOK NYERAH…” (kalau tidak salah seperti itu bunyinya…)
Kita bisa belajar dari siapapun termasuk penjual koran tersebut…
Regards,
Evan C L
Posted in Renungan | Leave a Comment »
Posted by evancornelius on June 18, 2007
Kita semua mungkin sudah tahu bahwa ada 2 golongan pengemis. Pertama adalah pengemis yang memang benar2 sudah tidak mampu lagi untuk mencari uang lagi dengan cara lainnya (cnth: seperti manula, orang cacat, dsb). Kedua adalah pengemis yang masih bisa mencari kerja yang lain, akan tetapi dia malas dan lebih memilih menjadi seorang pengemis sebagai profesi (cnth: orang2 yang tampak masih muda dan kuat)
Pengemis dan seni “self marketing” sangat jelas hubungannya. Sebagai buktinya, semakin tampak “menderita” seorang pengemis, maka akan semakin banyak uang yang bisa dia dapat.
Sebagai contoh di daerah Jakarta sini kebanyakan orang memberikan Rp. 200,- (koin) kepada pengemis “biasa” (tanpa improvisasi), untuk pengemis yang tampak “sangat menderita” mereka bisa menerima Rp. 500 sampai dengan Rp. 1000 dari pengendara mobil yang kasihan.
Coba kita bermain hitung2an dengan hal tersebut:
Untuk pengemis “biasa” (tanpa improvisasi), biasanya ciri2 mereka menggunakan pakaian yang sangat sederhana sekali, bisa laki/perempuan semua usia, taruhlah mereka memperoleh Rp. 200,- dari pengendara dan setiap hari ada minimal 200 pengendara saja yang melewati “daerah kekuasaan” pengemis itu maka setiap hari penghasilan dia Rp. 40000/hari kalau kita kalikan 1 bulan (30 hari), maka penghasilan bersih seorang pengemis “biasa” ini sekitar Rp. 1200000/bulan (mencengangkan bukan??) Hampir sama dengan gaji pertama fresh graduate yang belum punya pengalaman kerja.
Tunggu dulu…itu baru untuk pengemis kategori “biasa”…
Sekarang untuk pengemis yang tau teori “self marketing” hehehe…ciri2nya adalah para pengemis yang bisa melakukan improvisasi…mereka bisa tampak sangat “menderita” sekali dan tampak sangat “real” sekali jika kita tidak jeli membedakannya, mereka bisa berdandan seperti orang kusta yang berborok (dengan make up tentunya), orang buntung kaki (sangat2 real tentunya dengan make up juga). Taruhkah karena para pengendara merasa sangat kasihan dengan pengemis impovisasi tersebut, mereka tidak pikir 2 kali untuk memberikan koin Rp. 500 atau bahkan lembaran Rp. 1000 perak. Taruhlah mereka menerima Rp 500,- dari seorang pengendara dan setiap hari ada minimal 200 pengendara saja yang melewati “daerah kekuasaan” pengemis itu maka setiap hari penghasilan dia Rp. 100000/hari kalau kita kalikan 1 bulan (30 hari) maka penghasilan bersih seorang pengemis “kreatif” ini adalah sekitar Rp. 3000000/bulan (sungguh suatu angka yang sangat fantastis untuk seorang pengemis, hampir sama dengan penghasilan orang berpendidikan tinggi yang kerja di kantoran)
Dari cerita di atas kita bisa tahu sekarang mengapa jumlah orang yang berprofesi sebagai pengemis semakin lama…semakin banyak….ternyata bukan sekedar karena mereka mencari uang untuk sekedar menyambung hidup, tapi banyak dari mereka yang sudah menjadikan “mengemis” sebagai sebuah profesi yang sangat menjanjikan.
Bagaimana dengan anda? Tertarik?
Best Regards,
Evan Cornelius Lawanto
Posted in Renungan | 2 Comments »